Sulami Si Manusia Kayu Mulai Jalani Pengobatan di Solo

Sulami adalah seorang warga Sragen yang dijuluki sebagai si Manusia Kayu. Dirinya menderita penyakit yang langka yang membuatnya harus menjalani perawatan yang serius oleh tim dokter ahli dari Rumah Sakit Moewardi Solo. Penyakit yang diderita oleh Manusia Kayu ini adalah ankylosis spondylitis dan juga komplikasi skiloderma.

Dua jenis penyakit yang diderita oleh Sulami ini membuat dampak kaku yang terjadi di sekujur tubuhnya hingga tak bisa dilekukkan dan ditekuk sama sekali tak ubahnya seperti sebatang pohon kayu. Kaku ini terjadi di persendian dan juga tulang belakang, dimana dampak yang paling parah disebabkan oleh Ankylosis spondylitis. Dimana hal ini diungkapkan oleh ketua tim dokter yang menangani Sulami dan juga sekaligus doktr spesialis penyakit dalam, Arif Nurudin.

“Ankylosis spondylitis ini terjadi karena ada gangguan pada tulang ikatnya, sehingga seperti bambu, kaku. Maka, kelainan ini sering disebut juga dengan istilah bamboo spine,” jelasnya.

Kondisi Sulami sendiri semakin parah karena terjadi pengerasa kulit. Meski demikian, tim dokter yang menangangi Sulami sendiri menyebutkan bahwa ke depannya dengan perawatan yang intensif yang dilakukan oleh pihaknya di Solo, maka dipastikan dalam waktu dekat Sulami pun nantinya sudah bisa menekuk.

Tim dokter juga memastikan bahwa nantinya Sulami akan bisa duduk kembali meski telah lama hanya bisa terbaring kaku layaknya patung. Untuk menangani Sulami pihak medis dari Rumah Sakit Moewardi Solo akan bekerjasama juga dengan pihak Rumah Sakit Orthopedi Prof. Dr. Soeharso.

“Jadi nanti ke depannya, pasien tidak terlalu menggantungkan pada orang lain jika ingin beraktivitas,” imbuh Arif.

Sulami memang disebutkan tengah mengalami penyakit yang sangat langka. Akan tetapi, pihaknya tetap optimis bahwa Sulami nantinya akan bisa seperti sedia kala kembali. Dimana ada beberapa obat yang harus dikonsumsi oleh Sulami meski memang agak mahal namun bisa membantu Sulami untuk cepat bisa sembuh.

“Sekali tindakan kurang lebih bisa memerlukan biaya Rp 6 juta hingga Rp 8 juta,” tambah dokter itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.