Jasa Ojek Go-Jek Makin Tenar, Ini Penghasilan Pengendaranya

Jasa ojek Go-Jek saat ini sedang terkenal bagi masyarakat Jakarta. Hal ini karena memang para pengojek Go-Jek memiliki citra profesional di mata para pelanggannya. Ditambah lagi dengan adanya program Ramadhan Ceban, dimana para penumpang hanya membayar Rp. 10 ribu alias ceban untuk bepergian ke mana saja di seluruh wilayah atau tempat-tempat di Jakarta hingga Sabtu, 27 Juni 2015 kemaren.

Go-Jek
Go-Jek

Selain itu juga, para pengojek yang tergabung dalam Go-Jek sendiri seperti mendapatkan berkah tersendiri selama bergabung dalam Go-Jek. Setidaknya penghasilan mereka pun jadi lebih meningkat dibanding dengan mengojek sendiri seperti sebelumnya. Dan ternyata penghasilan para pengojek yang tergabung dalam Go-Jek sendiri sangat menggiurkan, Setidaknya dalam satu bulan kerja, mereka bisa berpenghasilan setidaknya antara Rp. 7,5 juta hingga Rp. 9 juta.

“Kalau setiap hari ngojek sekitar 10 orang dalam sebulan bisa dapat segitu. Tambahan bonus Rp 50 ribu dari kantor,” kata Toni Haryanto, yang merupakan pengojek Go-Jek.

Agar dapat mendapatkan gaji yang besarnya sama dengan para pekerja kantoran tersebut, para pengojek Go-Jek sendiri memang harus bersaing, namun persaingan tersebut dilakukan secara sehat. Persaingan sendiri dipatok dari jumlah penumpang yang mereka antar setiap harinya. Namun, para pengojek sendiri mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan penumpang karena difasilitasi dengan sebuah aplikasi android bernama Go-Jek. Dimana dengan aplikasi tersebut para pengojek sudah tahu profil yang mereka antar dan berapa tarif yang mereka pasang untuk perjalanan mereka.

Setiap pengemudi yang tergabung dalam Go-Jek sendiri diberikan fasilitas modal yaitu smartphone atau ponsel pintar setiap orang satu, helm, jaket dan juga uang tunai sebesar Rp. 100ribu oleh pihak perusahaan Go-Jek. Pekerjaan mereka pun tidak terbatas oleh waktu, jadi bisa lepas saja hingga lembur pun boleh.

“Saya bisa ambil penumpang di mana saja sesuai panggilan. Mau pulang atau kerja malam juga bisa,” kata Tony.

Namun, masalah pun muncul dari kecemburuan sosial para pengguna ojek regular saat ini di ibu kota. Setidaknya hal ini terdengar dari adanya tindakan intimitasi oleh pengojek reguler kepada para pengojek Go-Jek. Lalu, apa solusi yang tepat untuk hal ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.