Zainal Abidin Ancam Gentayangan Habis Dieksekusi Mati

Surat Zainal Abidin
Surat Zainal Abidin

Zainal Abidin adalah salah seorang terpidana mati yang tadi malam 29 April 2015 dieksekusi mati. Menariknya sebelum dieksekusi mati, Zainal menuliskan sebuah surat ancaman yang menyebutkan kalau arwah dirinya  gentayangan usai dieksekusi. Pria yang berasal dari Palembang ini sendiri tertangkap dan jadi terpidana mati atas kepemilikan ganja dengan berat 58,7 kg di tahun 2000 yang lalu.

Surat ancaman yang konon dituliskan oleh Zainal Abidin ini disampaikan langsung oleh sang kuasa hukumnya yaitu Ade Yuliawan. Surat itu sendiri ditulis oleh Zainal semasa dirinya menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, tertanggal 5 Maret 2015 yang lalu. Dalam surat tersebut dituliskannya bahwa kelak arwahnya akan bergentayangan dan mengganggu orang- orang yang terlibat dalam hal eksekusi mati dirinya, bahkan keluarga serta keturunannya.

“Surat ini ditulis oleh Zainal. Dia menitipkan surat ini kepada saya kalau saya ke Palembang,” kata Ade Yuliawan beberapa waktu lalu.

“Klien saya merasa sangat tidak adil atas apa-apa yang ia dapat saat ini. Terlebih, PK (Peninjauan Kembali) yang dia ajukan sudah 10 tahun belum ada jawabannya,” lanjutnya.

Zainal sendiri tertangkap atas kepemilikan sejumlah sabu yang kemudian membuat Pengadilan Negeri Palembang kemudian memberikan dirinya vonis 18 tahun penjara. Namun, pada akhirnya dirinya dijatuhi hukuman mati.

Berbagai cara telah dilakukan oleh Zainal untuk menghindari vonis hukuman mati kepadanya. Mulai dari mengajukan PK, namun tidak digubris oleh pihak Pengadilan hingga mengajukan Grasi kepada Presiden. Akan tetapi, Presiden Jokowi lantas menolak ajuan grasi tersebut pada tangga 9 Januari 2015 sehingga hukuman mati pun harus dirinya terima.

Zainal Abidin sendiri termasuk satu-satunya terpidana hukuman mati atas kasus narkoba yang dieksekusi pada tanggal 29 April 2015 kemaren malam. Selain dirinya, turut dieksekusi mati pula 7 terpidana mati lainnya seperti Myuran Sukumaran (WN Australia), Raheem Agbaje Salami (WN Spanyol), Andrew Chan (WN Australia), Rodrigo Gularte (WN Brasil), Martin Anderson alias Belo (WN Nigeria), Sylvester Obieke Nwolise (WN Nigeria), dan Okwudili Oyatanze (WN Nigeria).

Sementara itu Mary Jane Fiesta Veloso yang sebenarnya juga harus dieksekusi kemaren malam, ditunda eksekusinya atas permintaan dari Presiden Joko Widodo. Hal ini didasari oleh adanya laporan terbaru tentang lanjutan dari kasus dirinya. Diduga Marry Jane sendiri hanyalah korban dari sindikat perdagangan narkoba Internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.