Pakar Ungkap Kepulauan Mentawai Tidak Layak Huni, Benarkah?

Pulau Mentawai adalah salah satu kepualauan yang termasuk ke dalam provinsi Sumatera Barat. Wilayah ini pada hari Rabu, 3 Maret 2016 yang lalu diguncang oleh gempa berkekuatan 7,8 SR yang berpotensi tsunami. Sebelum gempa tersebut, wilayah ini juga pernah diguncang oleh gempa yang terbilang sangat dahsyat. Bahkan pada tahun 2010 yang lalu, wilayah ini juga disapu oleh gelombang tsunami yang mengakibatkan banyak koban jiwa dan juga beberapa bangunan di tempat ini jadi rusak.

Kepualauan MentawaiPerlu diketahui bahwa Kepulauan Mentawai sendiri terletak tepat di atas lempeng tektonik. Hal inilah yang menyebabkan wilayah ini rawan terjadi gempa hingga tsunami. Seorang Peneliti Geologi Kelautan dan Tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Reno Arief Rachman menyebutkan kalau pada saat tsunami yang terjdi pada tahun 2010 yang lalu, gerakan lempeng tektonik tersebut sudah sampai pada gerakan patahan.

Mengutip dari laporan VOA, peneliti yang sama menyebutkan kalau Pulau Mentawai sendiri adalah pulau yang terbentuk oleh dasar laut yang muncul ke permukaan karena adanya tumbukan lempeng tektonik tersebut. Oleh karenanya seluruh masyarakat yang hidup di daerah tersebut pada dasarnya tidak tinggal dan hidup di pulau, akan tetapi tepat di atas patahan lempeng tektonik tersebut.

“Patahan naik itu menyebabkan tsunami. Pulau Mentawai itu adalah patahan. Gempa itu terjadi di patahan, di mana ada patahan aktif, di situ akan terus terjadi gempa,” ucap Reno menjelaskan.

Dari sinilah juga diketahui kalau gempa akan terus terjadi di daerah Mentawai. Hal ini dikarenakan adanya proses pengangkatan ke atas yang terus akan berlangsung. Perlu juga diketahui kalau tinggi pulau Mentawai meningkat setidaknya hingga 1 meter dari permukaan lawan pasca terjadinya gempa dan tsunami pada tahun 2010 yang lalu.

Reno juga menyebutkan kalau pulau Mentawai sendiri merupakan pulau yang tidak layak untuk dihuni oleh manusia. Hal ini didasarkan pada adanya resiko akan terjadi bencana di masa yang akan datang yang terus akan berlangsung. Akan tetapi disadari memang untuk merelokasi warga yang telah lama tinggal di pulau tersebut bukan perkara yang mudah.

Cara yang masih bisa dilakukan saat ini adalah membangun sistem teknologi peringatan bencana secara dini. Hal ini tentu bukan bertujuan untuk mencegah bencana terjadi, akan tetapi lebih untuk meminimalisir korban jiwa yang akan jatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published.