Apa Sebenarnya Terapi Chiropractic yang Sebabkan Kematian Alya?

Terapi Chiropractic belakangan menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya salah satu pasien yang melakukan terapi Chiropractic ini meninggal dunia. Allya Siska Nadya, wanita berusia 33 tahun ini meninggal dunia dan diketahui sebelumnya telah melakukan terapi ini di klinik chiropractic di mall Pondok Indah, Jakarta Selatan. Meninggalnya putri dari seorang pejabat BUMN tersebut meninggal dunia setelah melakukan terapi Chiropractic dengan ditangani tenaga ahli asing di klinik tersebut.

Terapi Chiropractic
Terapi Chiropractic

Sebelumnya dan mungkin hingga saat ini belum banyak masyakarat yang mengetahui apa itu Terapi Chiropractic. Selama ini, terapi ini sendiri dikenal dengan terapi yang mahal. Anggapan ini berdasar pada biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien jika ingin menjalani terapi ini.

Chiropractic sendiri merupakan salah satu terapi untuk mengobati tulang belakang yang tidak sempurna atau memiliki gangguan. Untuk membuat tulang belakang tersebut menjadi normal kembali para dokter atau ahli Chiropractic hanya menggunakan tangan dalam praktiknya atau bisa dibilang manual saja.

Amerika Serikat adalah negara yang pertama kali memperkenalkan terapi ini, yakni pada tahun 1895 oleh seseorang yang bernama Daniel David Palmer. Terapis yang bekerja dalam perbaikan tulang belakang tersebut akan memijat, menekuk, mengoreksi dan menekan beberapa titik pada tulang belakang pasien yang mengalami masalah tersebut. Dalam hal tersebut, beberapa trik yang dilakukan bertujuan untuk membuat struktur tulang belakang kembali menjadi normal.

Jika terapi berjalan lancar dan sukses, maka dipastikan berbagai gangguan seperti sakit punggung akut, nyeri leher, nyeri sendi, migrain dan juga beberapa masalah lain yang muncul karena tulang belakang yang memiliki struktur yang salah akan teratasi. Oleh karenanya, terapis yang ingin melakukannya haruslah sudah mendapatkan lisensi dan benar-benar ahli dalam bidang Chiropractic ini.

Harvard Health Publications menjelaskan bahwa pengobatan atau terapi ini juga bisa dilakukan dengan cara pelatihan untuk berjalan, duduk dan berdiri. Tak hanya itu saja, terapi ini juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu laser.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, porsi terapi yang harus dilakukan oleh pasien adalah 20 menit dalam waktu sepekan setidaknya harus melakukannya selama 2 sampai 3 kali dan tentunya harus teratur. Perlu diketahui kegiatan ini harus berlangsung secara lama karena pertumbuhan tulang pun terjadi dalam waktu yang tidak singkat.

Namun, yang perlu pula anda ketahui sebelum melakukan terapi ini adalah klinik yang menjadi tempatnya haruslah memiliki izin dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Oleh sebabnya, anda harus jeli dalam memilihnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.