Ashin Wirathu, Biksu Radikal Dalang Pembantaian Kaum Rohingya

Ashin Wirathu
Ashin Wirathu

Pekan ini, nama biksu Ashin Wirathu menjadi sorotan banyak pihak. Betapa tidak? Biksu ini disebutkan menjadi orang yang berperan terhadap penindasan yang terjadi terhadap kaum Rohingya. Oleh karena propaganda atau hasutan dari sang biksu berpaham Radikal ini, banyak kamu Rohingya di negara tersebut harus mengalami pembantaian, hingga banyak yang akhirnya terkatung-katung di pantai sebagai pelarian dan ditolak oleh beberapa negara di ASEAN yang didatangi mereka.

Ashin Wirathu sendiri sering melakukan dakwah-dakwah atau ajaran kepada para pengikutnya untuk membenci orang-orang yang beragama Islam. Setidaknya, dirinya sendiri banyak menyita perhatian di negara tersebut mulai 14 tahun yang lalu. Ketika itu dirinya mengajak kepada pengikutnya dengan membangun sebuah gerakan yang dinamakan dengan Gerakakan 969. Gerakan ini sendiri terkenal di Myanmar dengan jargon “buy Buddhist and shop Buddhist”. Dimana dalam gerakan ini sendiri, semua umat Budha di negara Myanmar agar melakukan proses transaksi hanya kepada umat Budha saja, tidak dengan orang dari agama lain. Dari aksi mendeskreditkan orang dari agama lain ini, kemudian Ashin ditangkap dan divonis selama 25 tahun.

Akan tetapi, belum genap menjalani hukuman selama 25 tahun dirinya terbebaskan oleh adanya Amnesti yang diberikan kepadanya setelah hanya menjalani hukuman selama tiga tahun penjara. Dan uniknya lagi, hukuman selama tiga tahun ini tak lantas membuatnya berhenti berpaham radikal. Dan salah satu perkataan sang biksu kontroversial yang kembali membuat orang terkejut adalah

“Kami Buddha Burma terlalu lunak. Mereka -orang Muslim- bagus dalam sisi bisnis, mereka menguasai transportasi, konstruksi. Kini mereka bisa mulai mengambil alih partai politik kami.”

Bila ini terjadi, kami akan berakhir seperti Afghanistan atau Indonesia

Ashin Wirathu pun terus melakukan kampanye anti muslim di Myanmar. Dimana dirinya yang dituding berbagai pihak sebagai orang yang menjadi dalang utama pembantaian kaum Rohingya yang ada di Myanmar. Kaum Rohingya yang merupakan agama minoritas di negara tersebut digambarkan sebagai anjing gila seperti yang dikutip dari Washington Post.

“Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,”

Saat ini, Kaum Rohingnya sendiri terusir dari negara tempat mereka dilahirkan. Negara-negara di ASEAN pun menolak kehadiran mereka, sebelum akhirnya Aceh menerima kehadiran para pelarian dari Rohingya tersebut. Kaum Rohingya tidak berani pulang karena memang jika mereka pulang maka mereka akan dibantai.

Di Indonesia sendiri, ajaran agama Budha yang diajarkan oleh Ashin Wirathu sangat ditentang oleh para Biksu agama Budha. Dimana Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) menyebutkan kalau ajaran Agama Budha Ashin Wirathu tersebut berbeda.

“Kita perlu katakan bahwa Buddha kami dengan Myanmar berbeda,  tanggungjawab kami memberikan teladan yang jauh lebih baik bahwa agama Buddha adalah kemanusiaan,” ujar Ketua Walubi, Arief Harsono dikutip detik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.